Ketika memberikan Sambutan pada acara Pelepasan
Peserta Didik Kelas VI SDN 009 Desa Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman, pada
Kamis, 12 Juni 2014 yang lalu, tersentuh hati saya untuk menyampaikan pesan
mulia dan amanah arif kepada para
Pendidik, Stakeholders, dan orang tua/wali peserta didik yang hadir kala itu.
Alasan
mendasar yang mendorong saya untuk menyampaikan pesan mulia tersebut, antara
lain; 1). Spanduk lebar yang bertema: “ Mari Etam Tingkatkan Kualitas
Pendidikan yang Bermartabat di Odah Etam” dan 2) . Sekolah Dasar Negeri 009
mempunyai nilai historis bagi peningkatan karier dan profesi saya selaku
Pendidik. Tidak kurang 9 (sembilan) tahun lamanya saya mengabdi, menempa
pengalaman, mendidik, membimbing, dan mengajar di sekolah tersebut.
Untuk
menopang pendidikan yang “bermartabat” saya titipkan pesan, ada tiga kecerdasan
yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam teknik pembelajaran, yakni;
Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual
(SQ).
Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer.
Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.
Mulai menjadi trend pada akhir abad 20. Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling.
Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”
Pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall,
masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan bahwa
kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna
atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya.
Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer.
Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?
Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer.
Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?
Adalah Ari Ginanjar dengan semboyan ESQ-nya 165 yang
menandaskan 1= Ihsan, 6= Rukun Iman, dan 5=Rukun Islam.
IQ digambarkan sebagai “What I think?“, EQ “What I Feel”,
dan SQ adalah kemampuan menjawab “Who I am“. Siapa saya? Dan untuk apa saya
diciptakan. Tuhan Maha Adil, sebenarnya kita memiliki semua kecerdasan ini
tetapi tidak pernah kita asah bahkan kita munculkan. Untuk menjadi seorang
pribadi yang sukses kita harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ,
dan SQ. Ilmu tanpa hati adalah buta, sedangkan ilmu tanpa hati dan jiwa adalah
hampa. Ilmu, hati, dan jiwa yang bersinergi itulah yang memberikan makna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar