Malu kepada Allah taala, kita meninggalkan perbuatan dosa.
Malu menjadi orang bodoh, kita rajin belajar.
Malu tidak berpendidikan, kita bersekolah.
Malu kelihat aurat, kita berpakaian.
Malu jadi pengangguran, kita mencari pekerjaan.
Malu membujang terus, cepat-cepat lamar anak tetangga... he he he
Rasa malu adalah pintu kebaikan....
Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan....
Tapi kenapa: ada orang yang dikatakan oleh orang lain akan dirinya: Tidak punya rasa malu.
Dan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berikut ini cukuplah sebagai hadiah bagi mereka yang selau menjaga rasa malu.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
"Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan" (Muttafuqun alaih).
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Juli 2014
Senin, 23 Juni 2014
Energi dalam Tubuh Manusia
Ketika
pikiran positif yang menguasai alam pikiran kita, maka energi positif yang
terkandung dalam tubuh, akan memancarkan kekuatan positif yang akan memberikan
manfaat kepada siapa pun. Jika pikiran dan hati kita dipenuhi hal positif iman
pada Allah, kehidupan akhirat, sabar, ikhlas, tawakal, taqwa, optimis, penuh
harapan, penuh rasa syukur, bahagia, nyaman, tentram, merasa berkecukupan dan
lain sebagainya maka hidup kita akan diselubungi energi positif yang akan
membawa kita pada kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Begitu pula
sebaliknya, jika pikiran dan hati kita
dipenuhi hal negatif, putus asa, tidak ada harapan, kebencian, dendam, dengki,
kemiskinan, kemelaratan, kejengkelan, musyrik, tidak percaya pada Allah,
tidak percaya pada kehidupan akhirat dan sebagainya, maka hidup kita akan diselubungi
energi negatif yang akan membawa kita pada kesengsaraan dunia dan akhirat.
James
Ray dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne tentang manusia:“ Kebanyakan
orang merumuskan dirinya sebagai tubuh yang terbatas, tetapi kita bukanlah
tubuh yang terbatas .
Bahkan di bawah mikroskop, kita adalah sebuah ladang energi ” Energi tidak pernah dapat diciptakan atau dihancurkan , dulu sekarang maupun nanti, energi selalu ada , sesuatu yang pernah ada selalu ada. Kita adalah mahluk spiritual! Kita adalah ladang Energi, yang beroperasi di sebuah ladang energi yang besar.
”Kita adalah mahluk spiritual, kita adalah gumpalan energi yang kekal dan abadi demikian ungkap James Ray dalam The Secret. Energi positif dalam diri kita akan menarik kekuatan positif pula demikian pula energi negatif dalam diri kita akan menarik kekuatan negatif pula.
Bahkan di bawah mikroskop, kita adalah sebuah ladang energi ” Energi tidak pernah dapat diciptakan atau dihancurkan , dulu sekarang maupun nanti, energi selalu ada , sesuatu yang pernah ada selalu ada. Kita adalah mahluk spiritual! Kita adalah ladang Energi, yang beroperasi di sebuah ladang energi yang besar.
”Kita adalah mahluk spiritual, kita adalah gumpalan energi yang kekal dan abadi demikian ungkap James Ray dalam The Secret. Energi positif dalam diri kita akan menarik kekuatan positif pula demikian pula energi negatif dalam diri kita akan menarik kekuatan negatif pula.
Saat
ini setiap saat selalu terjadi pergumulan antara kekuatan negatif dan positif
di dalam diri kita. Kekuatan mana yang akan menang? Tergantung ke mana kita
berpihak Perasaan, pikiran dan kehidupan kita sangat dipengaruhi
oleh energi yang menguasai kita, energi positif atau negatif.
Apapun
profesi dan pekerjaan kita, jangan pernah dipelihara fikiran negatif. Seorang
pendidik, ketika menghadapi puluhan bahkan ratusan peserta didik dengan segala
bentuk perilakunya selalu ditemukan peserta didik yang nakal, bandel, malas,
bodoh, dan lain-lain. Nah, ketika menghadapi/menemukan peserta didik yang
seperti ini apabila tumbuh pikiran negatif dari pendidiknya, maka energi negatif yang timbul dari pendidik akan berbias kepada
peserta didik. Akibatnya, sampai kapanpun peserta didik kita tak akan berubah
dari perilakunya, bahkan akan bertambah negatif.
Sebagai
Insan agamis yang spiritualis, tentu kita ingin hidup tenang, bahagia, damai,
sejahtera lahir bathin, , kasih sayang, bermanfaat,
adalah keharusan apabila setiap langkah kehidupan kita senantiasa menyimpan
pikiran positif, yang tentu saja akan menimbulkan energi positif.
Rabu, 18 Juni 2014
Kisah Wortel Telur dan Kopi
Seorang anak
mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini
terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir
menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu mas
alah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”
alah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”
Jumat, 13 Juni 2014
Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ)
Ketika memberikan Sambutan pada acara Pelepasan
Peserta Didik Kelas VI SDN 009 Desa Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman, pada
Kamis, 12 Juni 2014 yang lalu, tersentuh hati saya untuk menyampaikan pesan
mulia dan amanah arif kepada para
Pendidik, Stakeholders, dan orang tua/wali peserta didik yang hadir kala itu.
Alasan
mendasar yang mendorong saya untuk menyampaikan pesan mulia tersebut, antara
lain; 1). Spanduk lebar yang bertema: “ Mari Etam Tingkatkan Kualitas
Pendidikan yang Bermartabat di Odah Etam” dan 2) . Sekolah Dasar Negeri 009
mempunyai nilai historis bagi peningkatan karier dan profesi saya selaku
Pendidik. Tidak kurang 9 (sembilan) tahun lamanya saya mengabdi, menempa
pengalaman, mendidik, membimbing, dan mengajar di sekolah tersebut.
Untuk
menopang pendidikan yang “bermartabat” saya titipkan pesan, ada tiga kecerdasan
yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam teknik pembelajaran, yakni;
Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual
(SQ).
Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer.
Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.
Mulai menjadi trend pada akhir abad 20. Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling.
Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”
Pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall,
masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan bahwa
kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna
atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya.
Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer.
Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?
Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer.
Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?
Adalah Ari Ginanjar dengan semboyan ESQ-nya 165 yang
menandaskan 1= Ihsan, 6= Rukun Iman, dan 5=Rukun Islam.
IQ digambarkan sebagai “What I think?“, EQ “What I Feel”,
dan SQ adalah kemampuan menjawab “Who I am“. Siapa saya? Dan untuk apa saya
diciptakan. Tuhan Maha Adil, sebenarnya kita memiliki semua kecerdasan ini
tetapi tidak pernah kita asah bahkan kita munculkan. Untuk menjadi seorang
pribadi yang sukses kita harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ,
dan SQ. Ilmu tanpa hati adalah buta, sedangkan ilmu tanpa hati dan jiwa adalah
hampa. Ilmu, hati, dan jiwa yang bersinergi itulah yang memberikan makna.
Jumat, 14 Desember 2012
SEPULUH CIRI ORANG BERPIKIR POSITIF
Ketika kita curhat dengan teman dekat tentang ragam problematika yang kita hadapi, Nasihat yang acap kali terpapar dari mulut teman kita adalah : "BERPIKIRLAH POSITIF!"
Kita yang tertimpa masalah terkadang mengernyitkan kening kebingungan dengan nasihat singkat dan ringan tersebut.
Kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi bagaimana ciri orang Berfikir Positif?
- MENYUKURI APA YANG DIMILIKI, dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya
- MENIKMATI HIDUP APA ADANYA, akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.
- PIKIRAN TERBUKA UNTUK MENERIMA IDE DAN GAGASAN , karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik
- MENGENYAHKAN PIKIRAN NEGATIF KETIKA MULAI HADIR DALAM BENAK ‘Memelihara’ pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
- MELIHAT MASALAH SEBAGAI TANTANGAN. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
- TAK MAU MENDENGARKAN GOSIP YANG TAK MENENTU Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.
- TIDAK BUAT ALASAN, TAPI BUAT TINDAKAN . Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya
- MENGGUNAKAN BAHASA YANG BERNADA OPTIMIS, maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti “Masalah itu pasti akan terselesaikan,” dan “Dia memang berbakat.”
- MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH YANG POSITIF, antara lain adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’.
- PEDULI PADA CITRA DIRI Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam. (hannie k.wardhanie)
Sabtu, 30 Juni 2012
SEPULUH JURUS MENJADI PEMIMPIN YANG EFEKTIF
Ketika kita dipercaya untuk memegang amanat suci sebagai ketua/pimpinan dalam sebuah organisasi, instansi, lembaga pemerintah/swasta, atau kelompok komunitas tertentu, perasaan yang acap kali menyelimuti perasaan kita adalah "ragu". Padahal perasaan ragu, jika terus menerus menghantui jiwa seorang pemimpin, maka bukan kesuksesan yang akan kita raih, justru kegagalan demi kegagalan yang akan menyertai.
Berikut saya akan menyumbangkan 10 jurus untuk menjadi pemimpin yang efektif, mungkin sedikit resep untuk mengatasi rasa ragu-ragu.
1. Siapkan Standar Etika Pribadi yang Tinggi
2. Energi yang Tinggi
3. Prioritas Kerja
4. Memiliki Keberanian
5. Bekerja Keras dengan Komitmen dan Dedikasi
6. Motivasi untuk Berkreasi
7. Orientasi Meraih Tujuan
8. Menjaga Antusiasme Tetap Konstan
9. Melakukan Apa yang Masih Mungkin Dilakukan
10.Membantu Orang Lain Berkembang
(Kepemimpinan Berkekuatan Prinsip: Pusdiklat Pegawai Depdiknas 2004, hal 6).
Tentu masih banyak jurus-jurus lain yang dapat dijadikan sebuah komitmen untuk menjadi pemimpin yang efektif, namun 10 jurus di atas paling tidak dapat membantu Anda menjadi Pemimpin yang sukses.
Senin, 17 Mei 2010
MEMAHAMI SOCIO - MOTIVATION oleh Aristiono Nugroho
Motivasi adalah suatu tekad, kehendak, keinginan, atau pendorong pada diri seseorang, yang akan menjadikannya bersedia dengan sungguh-sungguh mencapai cita-cita yang diinginkannya. Motivasi tidaklah berada di ruang hampa, melainkan berada pada suatu "kancah" interaksi sosial yang dijalani oleh seseorang. Oleh karena itu, membangun motivasi tidak dapat dilepaskan dari sensitivitas (kepekaan) terhadap interaksi sosial. Dengan kata lain, motivasi yang dibangun dan dimiliki oleh seseorang merupakan respon atas interaksi sosial yang melingkupi dan dijalaninya. Inilah yang disebut dengan sosio-motivation.
Contoh paling trend saat ini adalah motivasi para pelajar ketika mengikuti UAN (Ujian Akhir Nasional). Pencerahan sosio-motivation akan mempersuasi (membujuk) para pelajar agar mengerti, bahwa nilai UAN hanyalah atribut yang ditempelkan padanya sesuai dengan kemampuannya menyerap mata-pelajaran di sekolah. Oleh karena itu: (1) ketika nilai UAN-nya relatif baik, seharusnya ia tambah percaya diri, tidak sombong, dan siap berkontribusi bagi masyarakatnya; (2) ketika nilai UAN-nya relatif buruk atau tidak lulus, seharusnya ia tetap percaya diri (karena selalu ada peluang untuk memperbaiki diri), tidak rendah diri (karena Tuhan Yang Maha Esa menciptakannya sebagai makhluk bermartabat yang sempurna), dan siap berkontribusi bagi masyarakatnya (karena banyak cara untuk berbuat kebajikan).
Pola pemahaman tersebut juga dapat diterapkan pada berbagai bidang, dan bagi semua kalangan (pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Dengan demikian tidak alasan bagi siapapun, untuk tidak percaya diri, rendah diri, dan enggan berkontribusi. Siapapun Anda yang membaca blog ini, tetaplah semangat, tetap percaya diri, dan siap berkontribusi. Agar Tuhan Yang Maha Esa menyaksikan kerja keras Anda dalam berbakti padaNya, melalui ibadah (transendental) dan kebajikan (sosial).
InsyaAllah, dalam seminggu sekali blog ini akan memposting artikel yang berkaitan dengan sosio-motivation, untuk dipersembahkan pada para pembacanya, sebagai bagian dari upaya membangun dan mendorong motivasi yang mencerahkan.
Diposkan oleh SOCIO - MOTIVATION di 20:14
Label: mahasiswa, masyrakat, motivation, pelajar, socio, UAN
http://sosiomotivation.blogspot.com/
Contoh paling trend saat ini adalah motivasi para pelajar ketika mengikuti UAN (Ujian Akhir Nasional). Pencerahan sosio-motivation akan mempersuasi (membujuk) para pelajar agar mengerti, bahwa nilai UAN hanyalah atribut yang ditempelkan padanya sesuai dengan kemampuannya menyerap mata-pelajaran di sekolah. Oleh karena itu: (1) ketika nilai UAN-nya relatif baik, seharusnya ia tambah percaya diri, tidak sombong, dan siap berkontribusi bagi masyarakatnya; (2) ketika nilai UAN-nya relatif buruk atau tidak lulus, seharusnya ia tetap percaya diri (karena selalu ada peluang untuk memperbaiki diri), tidak rendah diri (karena Tuhan Yang Maha Esa menciptakannya sebagai makhluk bermartabat yang sempurna), dan siap berkontribusi bagi masyarakatnya (karena banyak cara untuk berbuat kebajikan).
Pola pemahaman tersebut juga dapat diterapkan pada berbagai bidang, dan bagi semua kalangan (pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Dengan demikian tidak alasan bagi siapapun, untuk tidak percaya diri, rendah diri, dan enggan berkontribusi. Siapapun Anda yang membaca blog ini, tetaplah semangat, tetap percaya diri, dan siap berkontribusi. Agar Tuhan Yang Maha Esa menyaksikan kerja keras Anda dalam berbakti padaNya, melalui ibadah (transendental) dan kebajikan (sosial).
InsyaAllah, dalam seminggu sekali blog ini akan memposting artikel yang berkaitan dengan sosio-motivation, untuk dipersembahkan pada para pembacanya, sebagai bagian dari upaya membangun dan mendorong motivasi yang mencerahkan.
Diposkan oleh SOCIO - MOTIVATION di 20:14
Label: mahasiswa, masyrakat, motivation, pelajar, socio, UAN
http://sosiomotivation.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)




