Perbedaan antara yang MUNGKIN dan TIDAK MUNGKIN, terletak pada TEKAD KITA.
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2014

Monitoring dan Evaluasi Kurikulum 2013 di Kecamatan Muara Kaman



Untuk menjaga dan meningkatkan kesinambungan pemahaman dari implementasi Kurikulum 2013 di masing-masing satuan pendidikan, maka diprogramkan kegiatan pendampingan untuk para guru dan kepala sekolah.Program pendampingan ini dilakukan sebagai penguatan dalam memahami konsep Kurikulum 2013 berikut perubahannya pada satuan pendidikan, serta untuk membantu mengatasi berbagai kendala yang muncul pada saat implementasi kurikulum tersebut di sekolah.
Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum 2013, sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahannya diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013, yang meliputi, buku guru dan buku siswa, pelatihan, pendampingan, pembelajaran penilaian, manajemen pembelajaran serta layanan kesiswaan. Sebagai tindak lanjut kegiatan monitoring dan evaliuasi kurikulum 2013, perlu disusun laporan pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang dilakukan melalui workshop laporan hasil monitoring dan evaluasi implementasi kurikulum 2013. 
Setelah mengikuti Kegiatan Workhshop Laporan Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi yang dilaksanakan tanggal 11 s.d. 13 November 2014 di Hotel Grand Tiga Mustika, Jl ARS Muhammad, Balikpapan, ada dua tahapan pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang harus dilaksanakan. Tahap pertama tanggal 27 s.d. 29 November 2014, kemudian tahap kedua 9 s.d. 11 Desember 2014. 
Pada Tahap pertama kegiatan monev  implementasi kurikulum 2013, yang penulis laksanakan di Gugus 3 dengan sasaran: SDN Inti 030 dan SD Imbas 022 Muara Kaman.
Pelaksanaan monev dilakukan dengan mendatangi responden di sekolah sasaran. Pelaksanaan monev dilakukan dalam bentuk wawancara dan observasi oleh petugas monev kepada responden. Responden tersebut adalah Kepala Sekolah, Guru Kelas I, II, IV, dan V, Peserta Didik kelas I dan IV, serta Komite Sekola/masyarakat.
Secara umum kesulitan sekolah untuk mengoptimalkan kegiatan implementasi kurikulum 2013 adalah penyediaan buku siswa dan buku guru, yang sampai saat penulis melaksanakan kegiatan monev belum didistribusikan. Kelemahan lainnya hampir 90% tenaga pendidik belum memahami secara komprehensif tentang implementasi kurikulum 2013, karena tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kurikulum 2013 dengan pola 52 jam, 72 jam, atau 92 jam yang dilaksanakan oleh lembaga yang berwenang.
Semoga pemerintah memberikan atensi khusus tentang keterlambatan penyediaan buku siswa dan banyaknya tenaga pendidik yang belum pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan kurikulum 2013.

Jumat, 13 Juni 2014

Kalender Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara 2014/2015


Bagi rekan Pendidikan dan Nonkependidikan, menjelang tahun pelajaran baru, lazimnya disibukkan dengan kegiatan Penyusunan Program Kerja/Kegiatan untuk tahun pelajaran berikutnya. Berdasarkan lampiran SK Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor : 800/902/DP-II/V/2014 tanggal 2 Mei 2014, tergambar 116 hari efektif untuk Semester 1, dan  111 hari efektif untuk semester 2. Jadi total hari efektif untuk Tahun Pelajaran 2014/2015 adalah 227 hari.
Ada 3 (tiga) hal penting yang harus kita perhatikan dalam lampiran SK tersebut:
1.   Kegiatan pada setiap Satuan Pendidikan harap dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara, cq. Bidang Masing-masing.
2.     Bilamana terjadi kekeliruan dalam penetapan tanggal hari besar keagamaan, maka yang berlaku adalah tanggal kalender nasional.
3.   Selama Bulan Puasa diharapkan kepada satuan pendidikan agar dapat melaksanakan kegiatan keagamaan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing satuan pendidikan

Demikian, semoga bermanfaat

Metode Joyful Learning Sangat Membantu Kecerdasan dan Keberhasilan Peserta Didik

Joyful Learning merupakan metode pembelajaran yang melibatkan rasa senang, bahagia, dan nyaman dari pihak-pihak yang sedang berada dalam proses belajar mengajar. Di sini terdapat keterikatan cinta dan kasih sayang antara fasilitator dan peserta didik maupun antar peserta didik. Tak ubahnya seperti ikatan cinta antara sepasang kekasih, keterikatan hati di dalam proses belajar mengajar akan membuat masing-masing pihak berusaha memberikan yang terbaik untuk menyenangkan pihak lain. Pendidik dengan semangat menggebu-gebu akan berusaha optimal memimpin kelas dengan cara yang paling menarik, sedangkan peserta dengan antusias dan berlomba-lomba ikut aktif ambil bagian dalam setiap kegiatan. Dengan demikian, Joyful Learning menjadi sarana yang membuat Pendidik maupun peserta didik menjadi betah menjalani tema demi tema pelajaran sehingga hasilnya akan maksimal.
Dalam metode joyful learning, Pendidik yang merupakan fasilitator mencari bahan-bahan dan alat-alat pengajaran yang paling menarik perhatian para peserta didik. Ia juga menerapkan kegiatan-kegiatan yang dapat membuat kelas menjadi bergerak dan dinamis. Untuk itu, seorang fasilitator terlebih dahulu perlu memahami perbedaan gaya belajar peserta didik.

Secara garis besar, ada tiga gaya belajar (learning style), yaitu audio, visual dan kinestetik. Orang yang memiliki gaya belajar audio lebih tertarik dan memahami pelajaran yang disampaikan dengan suara. Sedangkan orang dengan gaya belajar visual cenderung lebih mudah dan cepat menerima informasi melalui penglihatannya, baik berupa tulisan maupun gambar. Selanjutnya, pembelajar kinestetik sangat senang belajar dengan aktifitas fisik yang langsung bersentuhan dengan objek yang dipelajari.

Sabtu, 31 Maret 2012

Syukur


Alhamdulillah...!
Itulah ungkapan nurani yang sempat terucap, meski hanya setengah berbisik.
rasa haru menyeruak pada dinding sanubari,
yang memaksa tetesan butiran bening, yang tak kuasa kutahan
harus mengalir membasahi pipi..
Ya... hari ini terpaksa aku haru menyumbangkan air mata haru
di sela-sela ribuan wisudawan-wisudawati Unmul.
Tangis bahagia yang tercipta, bukan hanya karena aku telah berhasil menyelesaikan program studi pascasarjana pada bidang administrasi pendidikan, tetapi predikat Cum Laude yang merupakan impian banyak orang, mampu kuraih.
Dalam kesempatan ini kutitipkan rasa terima kasih yang teramat dalam kepada:
1. Allah Azza wajalla yang dengan Taufik dan Hidayah-Nya telah menebarkan kepada saya untuk keberhasilan ini.
2. Ibunda saya tercinta, yang tak henti-hentinya berdoa demi keberhasilan anaknya.
3. Prof. Dr. H. Zamruddin Hasid, SE, SU selaku Rektor Universitas Mulawarman Samarinda yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan Studi di Universitas Mulawarman Samarinda;
4. Prof. Dr. Ir. H. Abubakar M. Lahjie, M. Arg. selaku Direktur Pascasarjana Universitas Mulawarman yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana;
5. Drs. H. Syahril Bardin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi di fakultas yang bapak pimpin;
6. Prof. Dr. H. Amir Masruhim, M.Kes. selaku Ketua Program Pascasarjana Pendidikan Universitas Mulawarman yang telah berkenan memberikan dorongan dan bimbingan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan ketelitian sehingga studi di pascasarjana dapat terselesaikan;
7. Dr. H. Saraka, M.Pd. dan Drs. H. Sujiman, M.Pd. selaku pembimbing I dan II yang dengan penuh kesabaran telah membantu memberikan masukan dan koreksi demi kesempurnaan hingga akhir penyusunan tesis saya;
8. Prof. Dr. Makrina Tindangen, M.Pd., Dr. Mohammad Siddik, M.Pd., dan Dr. La Ode Rija’i, M.Si. selaku dosen penguji I, II, dan III yang telah memberikan saran-saran dalam rangka perbaikan tesis saya;
9. Seluruh Bapak/Ibu dosen program pascasarjana Universitas Mulawarman yang telah memberikan ilmu selama perkuliahan.
10. Rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan motivasi, yang kontribusinya sangat luar biasa.
11. Isteriku Erdiana, dan anak-anakku, Reza, Rozi, dan Lala yang tetap memberikan semangat kepada saya.
12. Siapa saja yang telah memberikan masukan dan bantuan kepada saya.
Semoga Allah melimpah rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Sabtu, 18 Juni 2011

SISI LAIN MENGHADAPI UJIAN UNTUK RAIH PRESTASI


Ketika berbincang ringan dengan teman saya, Sani Bin Husain di sudut Kampus Manajemen Pendidikan Jl. Kelua, Universitas Mulawarman, Samarinda, ada satu tips menarik bagi peserta didik kita dalam menghadapi Ujian Nasional. Bukti nyata dari hasil pengembangan belajar yang Beliau terapkan, adalah nilai maksimal (100) yang diperoleh beberapa siswa SMP IT Cordova dalam UN 2011 tadi. Tak heran Beliau mendapat reward dari Yayasan untuk melakukan studi banding di beberapa daerah luar Provinsi Kalimantan Timur.

Berangkat dari pembicaraan ringan tersebut, memberikan inspirasi bagi saya untuk sekadar sumbang pemikiran mengenai tips meraih prestasi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN), yang selama ini masih menjadi momok bagi para calon peserta UN.

1.Tingkatkan Motivasi Belajar.
Peserta didik yang tanpa motivasi berarti mati suri. Sukses tidaknya peserta didik dalam menghadapi UN sangat ditentukan oleh tinggi-rendahnya motivasi siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi UN. Peserta didik akan memiliki energi belajar yang luar biasa manakala memiliki motivasi yang kuat dan hebat.

2.Hadapilah UN dengan Tenang dan Proporsional.
Hadapilah ujian ini dengan sikap yang tenang dan proporsional bahwa ujian sebagai sesuatu yang harus dihadapi, dilalui. Sikap tenang akan memungkinkan kita menyusun rencana dan menentukan strategi jitu untuk menjalaninya dengan senang.

3.Perbanyaklah Mengerjakan Latihan Soal.

Ala bisa karena biasa” Peserta didik harus kita tingkatkan porsi berlatih memecahkan latihan-latihan soal ujian dengan cepat, cermat, dan tepat. Dengan sering berlatih maka kita terbiasa dan terlatih, sehingga tidak cemas atau grogi dalam menghadapi soal Ujian Nasional (UN). Kapan waktunya? Awal tahun ajaran manakala peserta didik duduk di kelas terakhir pada jenjang pendidikan, atau satu tahun sebelum UN dilaksanakan.

4.Mohon Doa Restu dari Orang Tua.
Satu hal yang banyak terlupakan oleh peserta didik kita adalah doa dari Sang Ibunda yang mempunyai kekuatan dan energi sangat dahsyat untuk sebuah prestasi. Yakinlah bahwa jika kita lulus maka orang tua kita akan senang dan bangga. Jadikanlah perjuangan menghadapi UN sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua kita tercinta. Sujudlah ke pangkuan mereka di setiap kesempatan sembari memohon doa restu pada mereka agar kita diberi kemudahan demi kemudahan dalam setiap ajang perjuangan kita. Senyum bahagia yang mengembang dari sudut bibir orang tua, merupakan harta yang sungguh sangat bermakna dan mulia.

Semoga bermanfaat!

Untaian Kata Siswa Kelas VI SDN 015


Bapak, Ibu, hadirin yang kami muliakan!
Perjalanan sang waktu yang terus berpacu, maju, dan melaju. Melangkahi detik, menjamah menit, menggapai minggu, dan merambah windu. Tak ada kekuatan manapun yang kuasa untuk menahan sang waktu. 72 minggu lamanya, tak terasa telah berlalu.

Ketika Sang Mentari, baru saja membiaskan sinar seraya menampakkan senyumnya di awal pagi. Ketika daun-daun di pepohonan masih bergelayut dengan embun putih.
Ketika kelopak bunga mulai mekar 'tuk menebarkan aroma yang harum semerbak.
Kami sebagai anak desa, sudah siap berpakaian seragam sekolah dasar untuk pergi menuntut ilmu. Kami perlu pengetahuan, kami haus pendidikan. Kami dambakan bimbingan. Bimbingan tulus dari Guru-guru kami tercinta.

Kenangan-kenangan manis itu dengan seksama kami jalani, semenjak kami masih belum tahu aksara, belum mengerti merangkai kata demi kata, belum bisa matematika, belum tahu apa-apa…….. hingga bisa seperti sekarang ini, menjadi siswa yang telah lulus di jenjang pendidikan di sekolah dasar.


Dalam kesempatan yang mulia ini, dari ujung rambut yang paling atas, dan dari ujung telapak kaki yang paling bawah, kami menghaturkan ucapan terima kasih yang tak terhingga, dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu dan Bapak Guru, yang telah bersusah payah mendidik kami, yang telah menyumbangkan fikiran dan ide-ide cemerlang untuk menjadikan kami sebagai manusia berharga dan berakhlak mulia. “ Semoga jasa-Mu yang tiada tara, mendapat balasan yang jauh lebih sempurna dari Yang Maha Bijaksana!” Amin Ya Robbal ‘alamin.

Kemudian atas tingkah polah kami yang sempat membuat hati-Mu benci, emosi,bahkan marah,kami memohon dengan segala kerendahan hati untuk dibukakan pintu maaf dan samudera ampun yang seluas-luasnya.
Sekali lagi;
“Maafkan kami, Pak!”
“Maafkan kami, Bu!”

Kepada adik-adik kami tercinta, yang sesaat lagi akan kami tinggalkan, kami titipkan pesan mulia. Jadilah tunas-tunas bangsa yang berakhlak mulia, yang berguna untuk agama, masyarakat, Nusa dan Bangsa Indonesia tercinta.
Selamat tinggal Adek-Adekku tercinta!
Selamat tinggal Bapak/Ibu Guru Kami tercinta!
Selamat tinggal kepada seluruh Keluarga Besar SDN 015!
Semoga tetap jaya dan berguna pendidikan masa depan anak-anak bangsa.

Selasa, 03 Agustus 2010

Pentingnya Pendidikan

Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menterjemahkan pesan-pesan konstitusi, serta sarana dalam membangun watak bangsa (nation character buliding). Masyarakat yang cerdas akan memberi nuansa kehidupan yang cerdas pula, dan secara progresif akan membentuk kemandirian, dan kreativitas.

Bangsa Indonesia bisa merdeka juga juga tak lepas dari peran pendidikan. Para Pahlawan Pendidikan seperti Ki hajar Dewantara, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker merupakan bukti peran pendidikan dalam pembangunan bangsa Indonesia. Mereka merintis pendidikan nasional dengan mendirikan Taman siswa pada tahun 1922, dan secara bertahap meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta kecerdasan masyarakat Indonesia, sehingga menjadi bangsa yang merdeka, dan berdaulat seperti sekarang ini.

Menyadari hal tersebut, untuk mewujudkan masyarakat madani dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang lebih demokratis, transparan, dan menjunjung tinggi Hak Azasi manusia, hanya dapat dilakukan melalui pendidikan. Hanya melalui pendidikan yang benar bangsa ini dapat membebaskan diri dari belenggu krisis multidimensi yang berkepanjangan. Melalui pendidikan, bangsa ini dapat membebaskan masyarakat dari kemiskinan, dan keterpurukan. Melalui pendidikan pula, bangsa ini mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki rasa percaya diri untuk bersanding dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia bahkan dalam era kesemrawutan global.

Tanpa pendidikan yang kuat, dapat dipastikan bangsa Indonesia akan terus tenggelam dalam keterpurukan. Tanpa pendidikan yang memadai, bangsa Indonesia akan terus dililit dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Tanpa pendidikan yang baik, bangsa Indonesia sulit meraih masa depan yang cerah, damai dan sejahtera.

Persoalannya, pendidikan yang bagaimanakah yang harus dikembangkan untuk membebaskan masyarakat dari keterpurukan, agar dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa, serta membebaskan bangsa dari ketergantungan terhadap negara lain. Jawabannya sederhana, yakni pendidikan yang dapat mengembangkan potensi masyarakat, mampu menumbuhkan kemauan, serta membangkitkan nafsu generasi bangsa untuk menggali berbagai potensi, dan mengembangkan secara optimal bagi kepentingan pembangunan masyarakat secara utuh dan menyeluruh. Pendidikan demikianlah yang mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas serta memiliki visi, transparansi, dan pandangan jauh ke depan; yang tidak hanya mementingkan diri dan kelompoknya, tetapi senantiasa mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dalam berbagai aspek kehidupan.

Selasa, 27 Juli 2010

HAKIKAT PENDIDIKAN


Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.
Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha watta’alla dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut William F (tanpa tahun) Pendidikan harus dilihat di dalam cakupan pengertian yang luas. Pendidikan juga bukan merupakan suatu proses yang netral sehingga terbebas dari nilai-nilai dan Ideologi.
Kosasih Djahiri (1980 : 3) mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).
Dari pengertian tersebut bahwa pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama didalam proses pendidikan itu. Berencana mengandung arti bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses perhitungan yang matang dan berbagai sistem pendukung yang disiapkan. Berlangsung kontinyu artinya pendidikan itu terus menerus sepanjang hayat, selama manusia hidup proses pendidikan itu akan tetap dibutuhkan, kecuali apabila manusia sudah mati, tidak memerlukan lagi suatu proses pendidikan.
Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas/pendekatan manusiawi/humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik–non fisik : emosi–intelektual ; kognitif–afektif psikomotor), sedangkan pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang – hangat – kekeluargaan – terbuka – objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga.
Melalui penerapan pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta dunia kehidupan dari segala liku dan seginya.
Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :
1.Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2.Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
3.Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri).
4.Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
5.Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.
Menurut Tilaar (2000 : 16) ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang peranan penting didalam pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu diberikan kesempatan didalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik didalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sindhunata (2000 : 14) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and Civized human being).
Dengan demikian proses pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral dan agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, kini dan masa depan.
Untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani yang diridhoi Allah swt. tentunya memerlukan paradigma baru. Paradigma lama tidak memadai lagi bahkan mungkin sudah tidak layak lagi digunakan. Suatu masyarakat yang religius dan demokratis tentunya memerlukan berbagai praksis pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang religius dan demokratis pula. Masyarakat yang tertutup, yang sentralistik, yang mematikan inisiatif berfikir manusia dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama Islam bukanlah merupakan pendidikan yang kita inginkan. Pada dasarnya paradigma pendidikan nasional yang baru harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global dengan tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah dan Syariatnya. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu, demokratis dan religius yang sesuai dengan kehendaknya sebagai wujud nyata fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan sekurelistik baik didalam manajemen maupun didalam penyusunan kurikulum yang kering dari nilai-nilai moral dan agama harus diubah dan disesuaikan kepada tuntutan pendidikan yang demokratis dan religius. Demikian pula di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, maka proses pendidikan haruslah mampu mengembangkan kemampuan untuk berkompetensi didalam kerja sama, mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu meningkatkan kualitas. Demikian pula paradigma pendidikan baru bukanlah mematikan kebhinekaan malahan mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan mayarakat dan bangsa Indonesia.

Rabu, 14 Juli 2010

Kalender Pendidikan 2010 Kabupaten Kutai Kartanegara

Dengan di mulainya Tahun Pelajaran 2010/2011, maka perlu disampaikan pertimbangan/dasar dalam penetapan Kalender Pendidikan sebagai berikut :
1. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Peraturan Pemerintah RI No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
4. Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.
5. Permendiknas RI No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan untuk satuan pendidikan dasar
dan menengah
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.
7. Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 125/U/2002 tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar Efektif di sekolah.
Sehubungan hal tersebut di atas, maka perlu dijelaskan sebagai berikut :
1. Awal Tahun Pelajaran 2010/2011 adalah tanggal 12 Juli 2010 dan Akhir Tahun Pelajaran 2010/2011
pada tanggal 25 Juni 2011.
2. Hari efektif sekolah :
a. Semester I : 133 hari
b. Semester II : 102 hari
Jumlah hari efektif : 235 hari
3. Hari-hari pertama masuk sekolah selama 3 (tiga) hari dapat dimamfaatkan melalui kegiatan pengenalan
lingkungan sekolah dan kerja bakti bersama dengan program terjadwal.
4. Hari-hari libur Satuan Pendidikan (sekolah) adalah :
a. Libur Semester I (libur tengah semester) mulai tanggal 17 s.d. 22 Januari 2011
b. Libur Semester II (libur akhir tahun pelajaran) mulai tanggal 20 Juni 2011 s.d. 9 Juli 2011
c. Libur dalam bulan Ramadhan 1431 H. adalah 1 (satu) hari sebelum Ramadhan dan 2 (dua) hari
pertama Ramadhan ( tanggal 10 s.d. 12 Agustus 2010 ) serta 6 (enam) hari sebelum Idul Fitri dan 6
(enam) hari setelah Idul Fitri ( tanggal 3 September 2009 s.d. 17 September 2010 )
5. Kegiatan dalam bulan Ramadhan 1431 H. adalah :
a. Pasatren Ramadhan selama 7 (tujuh) hari mulai tanggal 13 s.d. 16 dan 18 s.d.21 Agustus 2010.
b. Hari-hari efektif/proses pembelajaran selama 10 (sepuluh) hari mulai tanggal 23 Agustus s.d. 2
September 2010
( Poin 4. b sambil menunggu petunjuk lebih lanjut dari pemerintah )
6. Pemanfaatan kegiatan Tengah Semester (selama 5 hari) digunakan untk kegiatan seperti Pekan
Olahraga dan Seni (PORSENI), karyawisata, lomba kreatifitas, praktik pembelajaran yang bertujuan untuk
mengembangkan bakat, kepribadian anak, kreasi dan kreatifitas peserta didik dalam rangka Pendidikan
Anak Seutuhnya (PAS)
7. Kepala Satuan Pendidikan (Kepala Sekolah) dapat menetapkan hari libur sekolah/libur khusus dengan
ketentuan tidak mengurangi hari-hari efektif sekolah dengan persetujuan Komite Sekolah, dan Surat
Keputusan atau Surat Pemberitahuan disampaikan/ditembuskan kepada Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kepaala Kementerian Agama Kabupaten Kutai Kartanegara sesuai
dengan kewenangannya.
8. Kalender Pendidikan ini dapat diunduh melalui linkhttp://dikdaskukar.wordpress.com
Demikian atas perhatian dan kerjasama yang baik disampaikan ucapan terima kasih.